Label

Rabu, 03 Oktober 2012

Hubungan Inflasi Dengan Kegiatan Ekonomi


A.    Inflasi
Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Secara lebih rinci dalam ilmu ekonomi, inflasi dapat diartikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiscal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal, yaitu :
kenaikan harga, misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:
  1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
  2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose - COICOP), yaitu :
  1. Kelompok Bahan Makanan
  2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
  3. Kelompok Perumahan
  4. Kelompok Sandang
  5. Kelompok Kesehatan
  6. Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
  7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi.
Berikut adalah penggolongan Inflasi :
1.      Berdasarkan Parah Tidaknya Inflasi
a .Inflasi Ringan (Di bawah 10% setahun)
b. Inflasi Sedang (antara 10-30% setahun)
c. Inflasi Berat ( antara 50-100% setahun)
d. Hiper Inflasi (di atas 100% setahun)

2.      Berdasar Sebab musabab awal dari Inflasi
a. Demand Inflation, karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat
b. Cost Inflation, karena kenaikan biaya produksi

3.       Berdasar asal dari inflasi
a. Domestic Inflatuon, Inflasi yang berasal dari dalam negeri
b. Imported Inflation, Inflasi yang berasal dari luar negeri



B.     Kegiatan Ekonomi
Setiap kegiatan yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, dinamakan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi masyarakat dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: produksi, distribusi, dan konsumsi.
Pengertian Konsumsi
Dalam kegiatan tertentu kita pasti sering mendengar istilah konsumsi,. Konsumsi mempunyai pengertian kegiatan mengurangi atau menghabiskan nilai guna atau manfaat suatu barang atau jasa. Dari pengertian tersebut tentu kalian akan menjawab pertanyaan berikut ini. “Apakah menonton televisi termasuk kegiatan konsumsi?” Agar mudah membedakan apakah suatu kegiatan merupakan kegiatan konsumsi atau bukan, maka kita harus memahami ciri-ciri kegiatan konsumsi ialah barang yang digunakan dalam kegiatan konsumsi merupakan barang konsumsi, ditujukan langsung untuk memenuhi kebutuhan dan barang yang dipergunakan akan habis atau berkurang. Dari ciri-ciri kegiatan konsumsi di atas dapatlah disimpulkan bahwa konsumsi ialah kegiatan untuk mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang/jasa. Pelaku kegiatan konsumsi dinamakan konsumen.
Tujuan dan Perilaku Konsumen
Dalam kegiatan ekonomi seorang konsumen melakukan kegiatan konsumsi mempunyai beberapa tujuan. Terdapat empat tujuan kegiatan konsumsi dan ini juga merupakan pola perilaku dari konsumen yaitu:
a.      Mengurangi nilai guna barang atau jasa secara bertahap
Setiap orang yang melakukan konsumsi akan mengurangi nilai guna barang atau jasa tersebut secara bertahap. Sebagai contohnya ialah seperti memakai pakaian, kendaraan dan sepatu.

b. Menghabiskan nilai guna barang sekaligus
Konsumen juga dapat menghabiskan nilai guna barang sekaligus. Sebagai contoh adalah makan dan minum.
c. Memuaskan kebutuhan secara fisik
Seseorang melakukan konsumsi bertujuan untuk mencukupi kebutuhan mereka secara fisik. Kebutuhan tersebut telah dijelaskan pada pembahasan bab sebelumnya. Contohnya ialah mengenakan pakaian yang bagus agar penampilannya bertambah baik.

d. Memuaskan kebutuhan rohani
Tidak hanya kebutuhan secara fisik saja tujuan seorang konsumen melakukan kegiatan konsumsi akan tetapi juga untuk memuaskan kebutuhan rohani seperti contohnya ialah membeli kitab suci untuk kebutuhan religiusitas/ rohaninya.  Agar dapat melakukan konsumsi seseorang harus mempunyai barang atau jasa untuk dikonsumsi yang dapat diperoleh dengan menggunakan alat tukar berupa uang. Banyaknya barang yang dikonsumsi tergantung banyaknya barang yang tersedia di masyarakat serta harga barang tersebut. Oleh karena itu, besarnya konsumsi seseorang akan dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
1.       kemampuan masyarakat dalam menyediakan barang-barang konsumsi.
2.       besarnya penghasilan, khususnya yang tersedia untuk dibelanjakan.
3.        tingkat harga barang-barang.
Di samping ketiga faktor tersebut, besarnya konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh selera dan intensitas kebutuhannya terhadap barang yang bersangkutan serta adanya barang substitusi. Semakin tinggi selera dan intensitas kebutuhannya, akan cenderung semakin besar jumlah konsumsinya. Sedangkan semakin banyak jumlah dan jenisnya barang substitusi akan menyebabkan semakin berkurangnya jumlah konsumsi barang yang disubstitusi. Besarnya konsumsi masyarakat (tingkat konsumsi masyarakat) mencerminkan tingkat kemakmuran masyarakat tersebut, artinya makin tinggi tingkat konsumsi masyarakat, berarti makin tinggi pula tingkat kemakmurannya.

Pengertian Produksi
Dalam pengertian sederhana, produksi berarti kegiatan menghasilkan barang/ jasa. Produksi adalah kegiatan menciptakan atau menambah nilai guna suatu barang/jasa. Pelaku kegiatan produksi disebut produsen. Contohnya ialah: kapas diolah menjadi benang, benang menjadi kain, ban mobil bekas dijadikan sandal atau pot bunga.




Tujuan Produksi dan Perilaku Produsen
Dari pengertian tersebut jelas bahwa kegiatan produksi mempunyai tujuan dan memengaruhi perilaku produsen yang meliputi:
a. Menghasilkan barang atau jasa
Sangat jelas jika tujuan kegiatan produksi adalah menghasilkan barang atau jasa dengan menciptakan barang/jasa baru melalui proses produksi oleh produsen.

b. Meningkatkan nilai guna barang atau jasa
Sebuah perusahaan/industri memproduksi suatu barang bertujuan untuk meningkatkan nilai guna barang itu sendiri, di mana sebelumnya barang tersebut belum/kurang berguna tetapi sesudah melalui proses produksi nilai guna dari barang tersebut menjadi lebih tinggi.
 
c. Meningkatkan kemakmuran masyarakat
Tujuan dari proses produksi diharapkan dapat menghasilkan produk yang nantinya dapat mendatangkan keuntungan (profit oriented) yang nantinya kemakmuran masyarakat akan meningkat karena masyarakat akan memperoleh keuntungan dengan memproduksi suatu barag/jasa.

d. Meningkatkan keuntungan
Dengan memproduksi barang dan jasa diharapkan dapat meningkatkan keuntungan industri/perusahaan tersebut.

 e. Memperluas lapangan usaha
Apabila suatu perusahaan sudah memiliki skala produksi yang besar dan diminati/laku pasar maka dapatlah dipastikan bahwa perusahaan tersebut akan semakin besar sehingga dapat memperluas lapangan usaha.

 f. Menjaga kesinambungan usaha perusahaan
Tujuan berikutnya adalah untuk menjaga kesinambungan usaha perusahaan sehingga perusahaan tersebut dapat terus berjalan baik dalam memperoleh faktor-faktor produksi, memproduksi barang dan jasa serta menjualnya ke pasar untuk mendapatkan keuntungan. Berdasarkan pengertian dan tujuan dari kegiatan produksi tentunya manusia berusaha apa yang merupakan kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi secara baik atau mendekati kemakmuran.
Pengertian distribusi

Anda tentu sudah pernah melihat seseorang yang membawa barang tertentu untuk ditawarkan kepada pembeli, contoh seperti tukang sayur, tukang bakso dan tukang sate. Kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut merupakan kegiatan distribusi. Distribusi merupakan kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi.
Dari apa yang baru saja diuraikan dapat disimpulkan bahwa distribusi adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk menyalurkan barang dan/atau jasa dari produsen ke konsumen. Orang yang melakukan kegiatan distribusi disebut distributor.
Ada tiga jenis saluran distribusi, yaitu:
a.      Saluran distribusi langsung
Produsen > Konsumen
Contoh: petani sayur menjual sayuran di pasar.
b.      Saluran distribusi semi langsung
Produsen > Perantara > Konsumen
Contoh: Penerbit buku menjual bukunya melalui sales.
c.       Saluran distribusi tidak langsung
Produsen > Pedagang Besar > Pedagang Kecil > Pedagang Eceran > Konsumen.
Contoh: Pabrik televisi menjual televisi kepada konsumen melalui pedagang barang elektronik yang mengambil/membeli dari agen atau perwakilan dagang pabrik televisi tersebut.

Fungsi Distribusi Pokok
Yang dimaksud dengan fungsi pokok adalah tugas-tugas yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dalam hal ini fungsi pokok distribusi meliputi:
1.      Pengangkutan (Transportasi)
2.      Penjualan (Selling)
3.      Pembelian (Buying)
4.      Penyimpanan (Stooring)
5.      Pembakuan Standar Kualitas Barang
6.      Penanggung Risiko

Saluran Distribusi
Pengertian dari saluran distribusi atau perantara distribusi adalah orang atau lembaga yang kegiatannya menyalurkan barang dari produsen sampai ke tangan konsumen dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Saluran distribusi dapat kita bedakan menjadi dua golongan lembaga distribusi, yaitu pedagang dan perantara khusus.
1) Pedagang
Pengertian pedagang adalah seseorang atau lembaga yang membeli dan menjual barang kembali tanpa mengubah bentuk dan tanggung jawab sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Pedagang dibedakan menjadi:

2) Perantara Khusus
Sama halnya dengan pedagang, kegiatan perantara khusus juga menyalurkan barang dari produsen sampai ke tangan konsumen. Bedanya perantara khusus tidak bertanggung jawab penuh atas barang yang tidak laku terjual.


C.    Hubungan Inflasi dan Kegiatan Ekonomi.

Inflasi dan kegiatan ekonomi sangat saling berkaitan.  Inflasi dapat menyebabkan perubahan pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi infasi ringan), inflasi dapat menjadi suatu pendorong dalam parkembangan ekonomi. Inflasi dapat mendorong para pengusaha untuk memperluas produksinya. Dengan demikian, akan tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang. Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap, Inflasiakan menyebabkan mereka mengalami kerugian karena penghasilan yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa akan semakin sedikit. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut! Sebelum infiasi, orang yang menerima penghasilan Rp 100.000 dapat membeli 100 kg beras seharga Rp 1000,00 per kg. Karna inflasi, maka harga beras yang semula naik, menjadi Rp 1.250,00 per kg. Oleh karena nilai beli uang Rp 100.000,00 jika ditukarkan dengan beras kini hanya menjadi 80 kg. Dari ilustrasi tersebut, diketahui ada penurunan nilai tukar sebesar 20 kg (100 kg — 80 kg). Sebaliknya, orang yang berutang akan beruntung. Anggaplah seorang petani mempunyai utang Rp100.000,00. Sebelum Inflasi, petani itu harus menjual beras 100 kg untuk membayar utangnya. Tetapi setelah inflasi harga beras menjadi Rp 1.250,00 per kg, sehingga petani tersebut cukup menjual 80 kg untuk membayar utangnnya sebesar Rp 100.000,00.
Apabila inflasi terjadi ringan, akan meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar).
Pada keadaan Inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing terjadi karena harga barang ekspor yang semakin mahal yang tidak diimbangi dengan kanaikan taraf kualitasnya. Hal itu dapat menyulitkan para eksportir dan negara. Dan negara pun mengalami kerugian karena daya saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan berkurang. Dan jumlah Devisa yang diperoleh oleh negara juga semakin kecil.
Pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.









































Inflasi Indonesia Menurut Kelompok Komoditi,
2006, 2007, Januari-Mei 2008 (2002=100), Juni-Desember 2008 (2007=100), 2009, 2010, 2011, April 2012 (2007=100)


Tahun/Bulan
Bahan Makanan
Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar
Sandang
Kesehatan
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan
Indeks Umum
2012

0.9
2.09
1.26
0.83
1.04
0.36
0.61
1.09

April
0.12
0.62
0.24
-0.46
0.23
0.06
0.21
0.21

Maret
-0.33
0.46
0.2
0.15
0.16
0.07
0.1
0.07

Februari
-0.73
0.34
0.27
1.22
0.15
0.08
0.06
0.05

Januari
1.85
0.65
0.54
-0.08
0.51
0.15
0.23
0.76
2011

3.64
4.51
3.47
7.57
4.26
5.16
1.92
3.79

Desember
1.62
0.50
0.28
0.20
0.17
0.07
0.14
0.57

November
0.59
0.20
0.22
1.36
0.17
0.04
0.13
0.34

Oktober
-0,35
0,26
0,20
-1,26
0,26
0,30
-0,41
-0,12

September
-0.09
0.48
0.26
0.97
0.22
0.54
0.18
0.27

Agustus
1.07
0.46
0.33
3.07
0.26
2.14
0.8
0.93

Juli
1.84
0.42
0.19
0.62
0.27
0.97
0.17
0.67

Juni
1.27
0.41
0.3
0.57
0.41
0.18
0.15
0.55

Mei
-0.28
0.22
0.25
0.64
0.5
0.03
0.14
0.12

April
-1.9
0.2
0.21
0.75
0.38
0.08
0.07
-0.31

Maret
-1.94
0.32
0.29
0.38
0.38
0.17
0.08
-0.32

Februari
-0.33
0.47
0.4
-0.08
0.69
0.13
0.15
0.13

Januari
2.21
0.49
0.48
0.15
0.47
0.42
0.31
0.89
2010

15.64
6.96
4.08
6.51
2.19
3.29
2.69
6.96

Desember
2.81
0.36
0.21
1.08
0.16
0.07
0.25
0.92

November
1.49
0.46
0.25
0.89
0.09
0.08
0.01
0.6

Oktober
-0.85
0.48
0.36
1.73
0.24
0.44
-0.57
0.06

September
0.44
0.52
0.25
1.08
0.23
0.26
0.57
0.44

Agustus
0.47
0.67
1.59
0.06
0.27
1.27
0.36
0.76

Juli
4.69
0.65
0.26
-0.09
0.27
0.86
1.51
1.57

Juni
3.2
0.41
0.23
0.93
0.06
0.06
0.15
0.97

Mei
0.49
0.34
0.09
1.19
0.11
0.02
0.02
0.29

April
0.33
0.24
0.1
0.14
0.17
0.01
0.04
0.15

Maret
-0.91
0.28
0.13
0.01
0.25
0.02
0.07
-0.14

Februari
0.86
0.4
0.2
-0.47
0.18
0.07
0.11
0.3

Januari
1.73
1.93
0.34
-0.2
0.15
0.1
0.16
0.84
2009

3.88
7.81
1.83
6
3.89
3.89
-3.67
2.78

Desember
-0.13
0.93
0.28
0.95
0.2
0.01
0.35
0.33

November
-0.82
0.26
0.15
0.98
0.19
0.13
-0.08
-0.03

Oktober
0.28
0.7
0.24
0.37
0.2
0.34
-0.71
0.19

September
2.43
1.08
0.18
1.28
0.29
0.43
0.89
1.05

Agustus
1.29
0.73
0.21
0.01
0.35
1.26
-0.02
0.56

Juli
1.14
0.29
0.08
-0.23
0.13
1.21
0.28
0.45

Juni
-0.18
0.29
0.04
0.3
0.23
0.09
0.25
0.11

Mei
-0.25
0.48
0.09
-0.48
0.62
0.07
0
0.04

April
-1.33
0.4
0.12
-1.7
0.34
0.05
0.07
-0.31

Maret
-0.26
0.52
0.2
1.02
0.73
0.06
0.25
0.22

Februari
0.95
0.91
0.28
2.85
0.17
0.04
-2.43
0.21

Januari
0.76
0.95
-0.06
0.55
0.37
0.12
-2.53
-0.07
2008

16.35
12.53
10.92
7.33
7.96
6.66
7.49
11.06

Desember
0.57
0.52
0.52
1.13
0.21
0.16
-2.74
-0.04

November
-0.67
1.13
0.23
0.72
0.37
0.26
-0.31
0.12

Oktober
0.71
0.77
0.24
0.71
0.52
0.39
0.1
0.45

September
1.9
0.94
1.22
0.5
0.36
0.63
0.22
0.97

Agustus
0.94
0.59
0.53
-0.53
0.56
1.36
-0.01
0.51

Juli
1.85
1.07
1.8
0.81
0.71
1.74
0.71
1.37

Juni
1.28
1.33
1.14
0.49
0.83
0.44
8.72
2.46

Mei
1.72
0.86
1.58
-0.16
0.69
0.37
2.23
1.41

April
0.55
0.86
1.62
-0.27
1.88
0.13
-1.18
0.57

Maret
1.44
1.08
0.99
1.17
0.69
0.09
0.11
0.95

Februari
1.59
0.88
-0.01
0.76
1.56
0.04
0.02
0.65

Januari
2.77
2.02
1.8
2.31
0.72
0.01
0.24
1.77
2007

11.26
6.41
4.88
8.42
4.31
8.83
1.25
6.59

Desember
2.47
0.91
0.63
0.99
0.41
0.12
0.22
1.1

November
0.04
0.43
0.12
1.66
0.26
0.11
-0.27
0.18

Oktober
1.87
0.51
0.21
2.05
0.45
0.21
0.47
0.79

September
1.81
0.45
0.18
1.22
0.44
1.7
0.07
0.8

Agustus
0.79
0.48
0.77
0.49
0.24
3.18
0.04
0.75

Juli
1.35
0.4
0.32
0.61
0.35
2.89
0.05
0.72

Juni
0.47
0.33
0.13
-0.43
0.22
0.03
0.11
0.23

Mei
-0.39
0.47
0.35
0.21
0.18
0.01
0.13
0.1

April
-1.3
0.38
0.26
0.61
0.32
-0.03
0.22
-0.16

Maret
0.16
0.36
0.29
0.41
0.2
0.03
0.09
0.24

Februari
0.84
0.65
0.8
0.56
0.64
0.23
0.03
0.62

Januari
2.68
0.87
0.71
-0.25
0.54
0.1
0.1
1.04
2006

12.94
6.36
4.83
6.84
5.87
8.13
1.02
6.6

Desember
3.12
1.11
0.74
0.13
1.05
0.07
0.1
1.21

November
0.65
0.47
0.29
0.7
0.42
0.03
-0.21
0.34

Oktober
2.17
0.64
0.26
1
0.29
0.1
0.46
0.86

September
0.62
0.13
0.28
-0.13
0.31
1.84
-0.01
0.38

Agustus
-0.34
0.35
0.3
0.35
0.33
4.77
0.01
0.33

Juli
0.99
0.31
0.21
0.36
0.06
0.69
0.08
0.45

Juni
1.12
0.26
0.32
-0.08
0.27
0.25
0.1
0.45

Mei
0.28
0.3
0.3
2.03
0.57
0.07
0.17
0.37

April
-0.85
0.43
0.42
0.7
0.58
0.09
0.07
0.05

Maret
-0.88
0.58
0.36
0.15
0.39
0.12
0.13
0.03

Februari
1.18
0.65
0.55
0.72
0.4
-0.28
0.16
0.58

Januari
4.29
0.94
0.7
0.73
1.06
0.2
-0.05
1.36








Untuk  memudahkan pembacaan maka berikut adalah tampilan inflasi secara umum yang di lampirkan bersama besaran IHK untuk lima tahu terakhir (2007-2012)

Data Tabel Inflasi Indonesia 2007 - 2012

BULAN
TAHUN 2007
TAHUN 2008
TAHUN 2009
TAHUN 2010
TAHUN 2011
TAHUN 2012

IHK
INFLASI
IHK
INFLASI
IHK
INFLASI
IHK
INFLASI
IHK
INFLASI
IHK
INFLASI
Jan
147.41
1.04
158.26
1.77
113.78
-0.07
118.01
0.84
126.29
0.89
130.9
0.76
Feb
148.32
0.62
159.29
0.65
114.02
0.21
118.36
0.3
126.46
0.13
130.96
0.05
Mar
148.67
0.24
160.81
0.95
114.27
0.22
118.19
-0.14
126.05
-0.32
131.05
0.07
Apr
148.43
-0.16
161.73
0.57
113.92
-0.31
118.37
0.15
125.66
-0.31
131.32
0.21
Mei
148.58
0.1
164.01
1.41
113.97
0.04
118.71
0.29
125.81
0.12
N.A
N.A
Jun
148.92
0.23
110.08
2.46
114.1
0.11
119.86
0.97
126.5
0.55
N.A
N.A
Jul
149.99
0.72
111.59
1.37
114.61
0.45
121.74
1.57
127.35
0.67
N.A
N.A
Agt
151.11
0.75
112.16
0.51
115.25
0.56
122.67
0.76
128.54
0.93
N.A
N.A
Sep
152.32
0.8
113.25
0.97
116.46
1.05
123.21
0.44
128.89
0.27
N.A
N.A
Okt
153.53
0.79
113.76
0.45
116.68
0.19
123.29
0.06
128.74
-0.12
N.A
N.A
Nov
153.81
0.18
113.9
0.12
116.65
-0.03
124.03
0.6
129.18
0.34
N.A
N.A
Des
155.5
1.1
113.86
-0.04
117.03
0.33
125.17
0.92
129.91
0.57
N.A
N.A
Tahunan

6.59

11.06

2.78

6.96

3.79

1.09

Berikut adalah keterangan dan analisis sederhana table di atas :
Pada tahun 2007 kita dapat melihat terjadinya inflasi ringan sebesar 6,5 %. Seperti yang di jelaskan di atas Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Kemudian pada tahun 2008 terlihat kenaikan inflasi yang cukup siknifikan sebesar 11,06 % namun ini masih berada pada inflasi sedang, besaran inflasi seperti ini masih bisa dikatakan normal, produsen maasih bisa menyesuaikan diri dengan keadaan . Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.. pada tahun 2009 indonesia berhasil menurunkan inflasi hingga berada pada angka 2,78%. seperti halnya pada tahun 2007, pada tahun 2009 terjadi inflasi ringan yang akan mendorong berjalannya kegiatan ekonomi yang lebih baik.  Pada tahun 2010  terjadi kenaikan lagi apabila dibandingkan dengan tahun 2009  yaitu berkisar pada angka 6.96 %. Keadaan ini tidak akan jauh berbeda dengan keadaan di tahun 2007. Dengan kenaikan ini maka akan ada upaya untuk kembali menurunkan inflasi dan pada tahun 2011, terlihat bahwa upaya itu berhasil dan dapat kita lihat inflasi turun menjadi 3.79 %, kemudian penurunan ini berlanjut  ke tahun 2012 dengan perhitungan inflasi mulai januari hingga april sebesar 1,09 %.
Dari semua keterangan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara ringkas inflasi memiliki dampak sebagai berikut :

1. Dampak positif:
a. Peredaran / perputaran barang lebih cepat.
b. Produksi barang-barang bertambah, karena keuntungan pengusaha bertambah.
c. Kesempatan kerja bertambah, karena terjadi tambahan investasi.
d. Pendapatan nominal bertambah, tetapi riil berkurang, karena kenaikanpendapatan kecil.
2. Dampak Negatif:
a. Harga barang-barang dan jasa naik.
b. Nilai dan kepercayaan terhadap uang akan turun atau berkurang.
c. Menimbulkan tindakan spekulasi.
d. Banyak proyek pembangunan macet atau terlantar.
e. Kesadaran menabung masyarakat berkurang.



Grafik IHK dan Inflasi Bulanan 2007 - 2012

Description: http://4.bp.blogspot.com/-45lRQKW2IRY/Tz_v8UhDQOI/AAAAAAAAAbM/GLfJ2FMt8Bw/s400/Grafik+IHK+dan+Inflasi+Bulanan+2007+-+2012.jpg







Grafik Inflasi Tahunan 2007 - 2012

Description: http://4.bp.blogspot.com/-_wMjrkJ99Zo/Tz_wOLIkZRI/AAAAAAAAAbU/2UUVSvCdFj0/s400/Grafik+Inflasi+Tahunan+2007+-+2012.jpg


Secara lebih spesifik hubungan inflasi dengan kegiatan ekonomi adalah sebagai :
1.      Kegiatan Produksi
Bila antara kegiatan ekonomi  yang diantarannya ialh suatu pekerjaan ataupun kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan barang dan jasa,contohnya kegiatan produksi seperti membuat tas ,pempek palembang ,untuk dijual atau menawarkan jasa tukang cukur rambut dibawah poho bila kita hubungkan dengan ionflasi yang terjadi disuatu negara sebut saja indonesia tentu saja hal tersebut akan menghambat proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ataupun bpara pelaku kegiatan ekonomi tersebut dan membuat keadaan serta situasi semakin tidak terkendali dengan peredaran uang yang semakin tidak stabil dikalangan masyarakat karena nilai dari uang itu sendiri yang berkurang.
2.      Kegiatan distribusi
Kegiatan distribusi ialaha suatu pekerjaan atau kegiatan yang menyalurkan produk barang atau jasa dari seorang produsen kepada seorang konsumen dengan berbagai teknik dan cara.pihak yang melakukan distribusi adalah distributor contoh kegiatan distributor ialah agen koran,agen tenaga kerja dan lainnya bila hal ini kita kaitkan pada laju inflasi yang semakin hari semakin meningkat makaa ini semua akan berpengaruh pada tinggkat penghasilan yang akan mereka dapatkan.
3.      Kegiatan konsumsi.
Kegiatan konsumsi adalah pekerjann atau kegiatan yanga memakai atau menggunakan suatu produk barang atau jasa yang dproduksi atau dibuat oleh produsen,contohnya  kegiatan konsumsi adalah seperti makandiwarteg,berobat kedokter,dll bila hal ini kita kaitkan dengan meningkatnya inflasi maka biaya produksi yang semakin meningkat dan peminat konsumen dalam mengkonsumsi makanan semakin hari semakin berkurang maka hal ini akan membuat rugi siprodusen dan tentu saja para konsumen tidak akan menggunakan uangnya untuk kegiatan mengkonsumsi karena ia lebih tertarik dengan kegiatan untuk menabung uangnya kebank(terpengaruh oleh iklan ayo menabung).
Penetapan Target Inflasi
Target atau sasaran inflasi merupakan tingkat inflasi yang harus dicapai oleh Bank Indonesia, berkoordinasi dengan Pemerintah. Penetapan sasaran inflasi berdasarkan UU mengenai Bank Indonesia dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2010 – 2012, masing-masing sebesar 5,0%, 5,0%, dan 4,5% dengan deviasi ±1%.

Sasaran inflasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonominya ke depan sehingga tingkat inflasi dapat diturunkan pada tingkat yang rendah dan stabil. Pemerintah dan Bank Indonesia akan senantiasa berkomitmen untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan tersebut melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dengan sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya pengendalian inflasi menuju inflasi yang rendah dan stabil adalah dengan membentuk dan mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat agar mengacu (anchor) pada sasaran inflasi yang telah ditetapkan (Lihat Peraturan Menteri Keuangan tentang sasaran inflasi 2010-2012)

Angka target atau sasaran inflasi dapat dilihat pada web site Bank Indonesia atau web site instansi Pemerintah lainnya seperti Departemen Keuangan, Kantor Menko Perekonomian, atau Bappenas. Sebelum UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan oleh Bank Indonesia. Sementara setelah UU tersebut, dalam rangka meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia maka sasaran inflasi ditetapkan oleh Pemerintah.




Tabel perbandingan Target Inflasi dan Aktual Inflasi 2007-2012

Tahun
Target Inflasi
Inflasi Aktual
(%, yoy)
2007
+1%
6,59
2008
+1%
11,06
2009
4,5 +1%
2,78
2010*
5+1%
6,96
2011*
5+1%
3,79
2012*
4.5+1%
-

*) berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 tanggal 24 Agustus 2010

Sampai pembahasan dampak inflasi, maka kita dapat menyimpulkan bahwa inflasi menyebabkan perubahan yang sangat luas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Jika dihubungkan dengan keadaan sekarang tentunya dengan mudah Anda mendapatkan gejala-gejala negatif dari inflasi yang paling sederhana, harga-harga naik secara menyeluruh. Apakah Anda merasakan dampak tersebut?
Inflasi tentunya harus diatasi dan untuk mengatasinya dapat dilakukan pemerintah dengan cara melakukan beberapa kebijakan yang menyangkut bidang moneter, fiskal dan non moneter. Adapun penjelasan kebijakan tersebut akan diuraikan di bawah ini.
Kebijakan Moneter adalah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar. Penyebab inflasi diantara jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga dengan kebijakan ini diharapkan jumlah uang yang beredar dapat dikurangi menuju kondisi normal. Untuk menjalankan kebijakan ini Bank Indonesia menjalankan beberapa politik/kebijakan yaitu politik diskonto, politik pasar terbuka dan menaikan cash ratio.
1) Politik Diskonto ditujukan untuk menaikan tingkat bunga karena dengan bunga kredit tinggi maka aktivitas ekonomi yang menggunakan dana pinjaman akan tertahan karena modal pinjaman menjadi mahal.
2) Politik Pasar Terbuka dilakukan dengan cara menawarkan surat berharga ke pasar modal. Dengan cara ini diharapkan masyarakat membeli surat berharga tersebut seperti SBI yang memiliki tingkat bunga tinggi, dan ini merupakan upaya agar uang yang beredar di masyarakat mengalami penurunan jumlahnya.
3) Cash Ratio artinya cadangan yang diwajibkan oleh Bank Sentral kepada bank-bank umum yang besarnya tergantung kepada keputusan dari bank sentral/pemerintah. Dengan jalan menaikan perbandingan antara uang yang beredar dengan uang yang mengendap di dalam kas mengakibatkan kemampuan bank untuk menciptakan kredit berkurang sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang.
Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang berhubugan dengan finansial pemerintah. Bentuk kebijakan  ini antara lain:
1) Pengurangan pengeluaran pemerintah, sehingga pengeluaran keseluruhan dalam  perekonomian bisa dikendalikan.
2)  Menaikkan pajak, akan mengakibatkan penerimaan uang masyarakat berkurang dan ini  berpengaruh pada daya beli masyarakat yang menurun, dan tentunya permintaan akan barang dan jasa yang bersifat konsumtif tentunya berkurang.
Kebijakan Non-Moneter dapat dilakukan dengan cara menaikan hasil produksi, kebijakan upah dan pengawasan harga dan distribusi barang.
1) Menaikan hasil produksi, cara ini cukup efektif mengingat inflasi disebabkan oleh kenaikan jumlah barang konsumsi tidak seimbang dengan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu pemerintah membuat prioritas produksi atau memberi bantuan (subsidi) kepada sektor produksi bahan bakar, produksi beras.
2) Kebijakan upah, tidak lain merupakan upaya menstabilkan upah/gaji, dalam pengertian bahwa upah tidak sering dinaikan karena kenaikan yang relatif sering dilakukan akan dapat meningkatkan daya beli dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang-barang secara keseluruhan dan pada akhirnya akan menimbulkan inflasi.
3) Pengawasan harga dan distribusi barang dimaksudkan agar harga tidak terjadi kenaikan, hal ini seperti yang dilakukan pemerintah dalam menetapkan harga tertinggi (harga eceran tertinggi/HET). Pengendalian harga yang baik tidak akan berhasil tanpa ada pengawasan. Pengawasan yang baik biasanya akan menimbulkan pasar gelap. Untuk menghindari pasar gelap maka distribusi barang harus dapat dilakukan dengan lancar, seperti yang dilakukan pemerintah melalui Bulog atau KUD.



1 komentar: